Selingan

Jujur saja hobiku salahsatunya adalah membaca. Mungkin bacaan yang sudah ku baca itu tidak cukup banyak, hanya beberapa buku dan dari hasil membaca itu timbul hasrat dari dalam diriku untuk menuangkan hasil bacaanku di blog ini agar orang-orang bisa tahu apa yang aku tahu.

Ya, tapi sayangnya hal itu tidak terjadi hingga sekarang. Mengapa? Jika di dalam diriku ini sebenarnya hanya masalah pribadi dan kemalasan semata untuk menulis sebuah blog. Ya kalau di pikir sih emang tidak ada ruginya bagi saya sendiri. Tapi dalam hatiku mengatakan hal yang lain, “Untuk apa kau membaca? Agar terlihat hebat? Atau hanya sekedar menghabiskan waktu? Kalau untuk itu, apa gunanya!”

Kalau dipikir untuk apa kita punya pengetahuan sekedar untuk terlihat hebat saat kita bisa menjawab pertanyaan seseorang saat orang lain tidak mengetahui jawabannya atau karena hal lain yang aneh seperti diriku. Untuk apa kita punya banyak ilmu jika kita tidak bisa mengamalkannya dan menyebarkannya agar orang lain pun tahu (bukan bererti karena saya punya banyak ilmu). Karena nilai dari ilmu kita bukan karena banyaknya tapi bagaimana cara kita mengamalkannya.

USMAN

Di desa Tawangsari, Kelurahan Jatibasa, Kabupaten Purbalingga pada tanggal 18 Maret 1943 lahirlah seorang anak bernama Janatin. Anak dari Haji Muhammad Ali dan Ibu Rukiah itu seorang anak yang mempunyai sifat yang baik dan tidak sombong sehingga ia mudah untuk bergaul. Sejak kecil Janatin selalu diajarkan keagamaan oleh ayahnya sehingga ia pun tumbuh menjadi anak yang soleh.

Pada tahun 1961 saat presiden Sukarno mengomandokan Trikora Janatin terpanggil hatinya untuk berjuang atas nama bangsanya. Janatin selalu terobsesi oleh seluruh kakaknya yang merupakan anggota ABRI. Pada awalnya Janatin tidak diperbolehkan oleh orang tuanya karena seluruh kakak Janatin adalah anggota ABRI. Tapi dengan tekadnya yang kuat akhirnya ia pun diperberbolehkan oleh orang tuanya.

Janatin mendaftar jadi seorang calon tamtama Korps Komando Angkatan Laut. Dengan gemblengan yang sangat keras untuk menjadi anggota Korps Komando AL Janatin tetap berjuang dengan tekad yang kuat agar bisa mendapatkan baret ungu. Akhirnya Janatin pun lulus dan berhak mendapatkan baret ungu.

Pada tanggal 8 Maret 1965 Janatin ditugaskan melakukan infiltrasi ke Singapura bersama Tohir dan Gani. Janatin menjadi komandan regu tersebut, tapi walaupun ia jadi komandan ia sadar bahwa ia sangat memerlukan bantuan Tohir yang sudah hafal tempat di Singapura. Karena ini merupakan misi infiltrasi agar tidak menimbulkan kecurigaan Janatin dan Tohir pun mengubah nama mereka menjadi Usman dan Harun.

Mereka bertiga melakukan pengitaian-pengintaian di daerah-daerah yang cukup penting. Setelah melakukan beberapa pengintaian mereka pun memutuskan untuk meledakan Hotel Mac Donald di Orchad Road pada tanggal 10 Maret 1965. Peledakan itu bertujuan untuk membuat kepanikan di daerah tersebut. Peledakan hotel tersebut membuat 20 toko di sekitar itu hancur, 24 mobil sedan rusak, 30 orang meninggal, dan 35 orang luka-luka.

Setelah terjadi peledakan tersebut aparat keamanan Singapura mencoba untuk menemukan pelaku peledakan tersebut. Akibatnya, jalan keluar bagi mereka bertiga untuk kembali ke pangkalannya pun sangat mustahil untuk dilakukan. Akhirnya Mereka memutuskan untuk berpencar, Gani bergerak sendiri, dan Usman bersama Harun. Karena Usman belum mengenali wilayah Singapura.

Usman dan Harun awalnya mencoba kabur dari Singapura dengan cara menyelinap di sebuah kapal dan menyamar jadi awak kapal. Tapi sang kapten kapal mengetahui adanya penyelinap dan mengeluarkan Usman dan Harun dari kapal pad tanggal 12 Maret 1965. Kesempatan untuk melarikan diri pun kandas, mereka berdua pun kembali ke persembunyiannya.
Tanggal 13 Maret 1965 mereka pun keluar dari persembunyiannya. Ketika mereka sedang mencari-cari kapal untuk melarikan diri tiba-tiba datanglah sebuah motorboat yang dikemudikan oleh orang Cina, daripada tidak melakukan apapun mereka akhirnya merampas motorboat itu lalu melarikan diri dengan mengarahkan motorboat itu ke Pulau Sambu.

Tetapi takdir Tuhan berbicara lain, ketika motorboat yang dikemudikan Usman dan Harun belum melewati perbatasan Singapura motorboat itu pun kehabisan bahan bakar. Usman dan Harun pun tertangkap oleh Singapura pada pukul 09.00 tanggal 13 Maret 1965.

Usman dan Harun dijebloskan dalam penjara dengan ancaman hukuman mati. Tetapi Usman dan Harun memasrahkan semuanya pada Tuhan dan tanpa ada rasa penyesalan dalam diri mereka. Mungkin bagi mereka “Dulce et decorun est pro patria mori” “Kemuliaan dan kehormatan adalah mati untuk tanah air”. Bahkan saat beberapa hari menjelang eksekusinya mereka masih bersikap tenang dan tegar bahkan mejelang eksekusi mereka masih bisa tidur dengan nyenyak.

Usman dan Harun dihukum mati pada tanggal 17 Oktober 1968. Atas jasa mereka, mereka diangkat menjadi pahlawan nasional dan dianugerahi bitang sakti. Tekad dan ketabahan Usman pelu dijadikan teladan untuk kita sebagai pemuda generasi penerus bangsa. Tekad yang kuat untuk menggapai suatu tujuan dan tabah terhadap semua hal yang akan terjadi.

“Jalesu Bhumyamca Jayamahe”

Sumber :

Citrawijaya, Supoduto. 2005. Kompi X di Rimba Siglayan. Penerbit Buku Kompas : Jakarta
www.polarhome.com/pipermail/marinir/2005-November/000961.hmtl

Peran Pemimpin Dalam Proses Pelaksanaan Kerja Menurut Gajah Mada

Tentu kita telah mengetahui siapakah Gajah Mada itu. Gajah Mada adalah seorang patih di kerajaan Majapahit saat pemerintahan raja Hayam Wuruk. Saat pemerintahan merekalah Majapahit menuju puncak kejayaan. Oleh karena itu Gajah Mada adalah seorang yang sangat bijak, dan perkataannya pun tidak salah jika kita turuti.

Gajah Mada pernah memparkan gagasannya tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin berperan dalam proses pelaksanaan kerja, yakni dengan menjalankan pancatiti dharmaning prabhu sebagai berikut :

1. Handayani hanyakra purana. Senantiasa memberikan motivasi dan kesempatan berkembang anggotanya.

2. Madya hanyakrabata. Harus selalu berada ditengah-tengah masyarakat dan terlibat secara langsung dalam setiap proses pengambilan pelaksanaan kebijakan.

3. Ngrasa bala wikara. Menggunakan cara-cara cerdas, kreatif, dan inovatif dalam setiap pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan.

4. Ngrasa hanyakrabata. Menjadi teladan yang bisa diikuti semua anggota rakyat.

5. Ngrasa dana upaya. Selalu berada pada barisan terdepan dalam pengorbanan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwa dalam mencapai tujuan bersama.

Sumber :

Arifin, Yanuar. 2011. Misteri Satrio Piningit. Yogyakarta : Laksana

Lirik Lagu Avenged Sevenfold – M.I.A ++

Avenged Sevenfold – M.I.A

Staring at the carnage

Praying that the sun would never rise

Living another day in disguise

These feelings can’t be right

Lend me your courage to stand up and fight on tonight Stand up and fight
Now fighting rages on and on

To challenge me, you must be strong

I walk your land but don’t belong

Two million soldiers can’t be wrong
It’s no fun but I’ve been here before

I’m far from home and I’m fighting your war

Not the way I pictured this

I wanted better things
Some are scared, others killing for fun

I shot a mother right in front of her son

Take this from my consciousness

And please erase my dreams
Fight for honor, fight for your life

Pray to God that our side is right

Know we won, I still may lose

Until I make it home to you
I see our mothers filled with tears

Grew up so fast, where did those years go?

Memories won’t let you cry

Unless I don’t return tonight
So many soldiers on the other side

I take their lives so they can’t take mine

Scared to make it out alive now

Murder’s all I know
Nobody tells me all the reasons we’re here

I have my weapon, so there’s nothing to fear

Another day, another life

But nothing real to show for
Fight for honor, fight for your life

Pray to God that our side is right

Know we won, I still may lose

Until I make it home to you
I see our mothers filled with tears

Grew up so fast, where did those years go?

Memories won’t let you cry

Unless I don’t return tonight
Staring at the carnage

Praying that the sun would never rise

Living another day in disguise

These feelings can’t be right

Lend me your courage, stand up and fight
Watching the death toll rise

Wondering how I’m alive

Stranger’s blood on my hands, shot all I can
There were no silent nights

Watching your brothers all die

To destroy all their plans with no thought of me

No thought of me, no thought of me
Walk the city lonely

Memories that haunt are passing by

A murderer walks your streets tonight

Forgive me for my crimes

Don’t forget that I was so young

Fought so scared in the name of God and country

 

Sumber :

http://www.metrolyrics.com/mia-lyrics-avenged-sevenfold.html

 

Maksud dari lirik ini menurut saya

Lagu M.I.A ini adalah lagu rock yang ditulis, diaransemen, dan dipopulerkan oleh Avenged Sevenfold yang merupakan grup band rock asal Amerika yang berdiri sejak 1999. Saya menulis tentang lagu ini karena saya suka pada lagu ini dan menurut saya lagu ini mempunyai maksud yang keren.

Dengan melihat judulnya yaitu M.I.A kita bisa langsung tahu bahwa lagu ini memiliki unsur kemiliteran. Karena M.I.A adalah sebuah istilah militer yang merupakan kepanjangan dari Missing In Action, yaitu keadaan dimana seorang atau beberapa prajurit hilang dan tidak diketahui keberadaannya, bisa juga prajurit yang tidak diketahui indentitasnya yang telah terpisah dari satuaannya. Yang mempunyai status M.I.A biasanya ialah prajurit yang terluka sehingga tertinggal atau juga prajurit yang meninggal tapi tidak diketahui dimana ia dan jasadnya tidak bisa diidentifikasi. Untuk mencegah Status M.I.A ini militer AS membuat suatu tanda pengenal berupa kalung yang biasa disebut dog tag sehingga membuat lebih mudah mengenalai identitas prajurit maupun jasadnya sehingga bisa mengurangi status M.I.A ini, terutama bagi prajurit yang telah meninggal.

Di Lirik lagi ini sepertinya status M.I.A ini ditunjukan di bait pertama. Dimana saat sang tokoh di lagu ini ada di dalam pembantaian besar-besaran, lalu mengajak teman-teman lainnya untuk berdiri dan bertarung. Saya menafsirkan seperti ini karena mungkin saat terjadinya baku tembak yang hebat dan disebabkan oleh berbagai faktor sehingga pertarungan menjadi tidak seimbang dan berubah jadi pembantaian. Dalam lagu ini kemungkinan yang terbantai adalah pasukan sang tokoh karena dalam bait awal lagu ini sang tokoh berusaha memberi semangat pada kawannya untuk berdiri dan bertarung, dan tidak mungkin pihak pembantai mengalami kedodoran mental. Sealain itu dalam kondisi terbaintai seperti itu kemungkinan untuk berpisah dengan  pasukannya sangat mungkin sehingga menyebabkan sang tokoh menyandang status M.I.A dengan beberapa kawannya.

Di lirik selanjutnya sepertinya itu merupakan kata-kata yang terlalu angkuh untuk seorang yang menyandang status M.I.A. Tapi, menurut saya hal ini mungkin akibat dari tekanan yang cukup tinggi hingga ia mengangkuhkan dirinya sendiri saat keadaan terjepit agar membuat dirinya percaya bahwa dia bisa seperti yang ada di film-film AS.

Di Reff lagu ini sepertinya memberi kita sebuah amanat yaitu “Fight for honor fight for your lives, Pray to God that our side is right.” yaitu bertarunglah demi kehormatan dan hidupmu, berdoalah pada Tuhan bahwa kita dipihak yang benar (Gila orang tattoan, ditindik, ama suka mabok masih inget ke Tuhan, Subhanallah). Amanat yang sangat menyentuh menurut saya dan membuat kita ingat bahwa dalam peperangang modern seperti sekarang ini terlalu banyak unsur politik yang bergabung. Menurut seorang ahli (maaf saya lupa namanya) “Peperangan bukan dimulai oleh angkatan bersenjata, tapi dimulai oleh para politikus.” Sehingga berdoa pada Allah SWT sang pencipta kita saat berperang agar kita ada disisinya sangatlah penting karena belum tentu kita berada di jalan yang benar. Hal lain yang cukup mengharukan di Reff ini ialah saat kehadiran sosok ibu yang tengah menangis memikirkan anaknya, sungguh seperti realita.

Di Lirik bagian Bridge pada lagu ini menunjukan bahwa dalam kondisinya yang sangat kritis, darah dimana-mana, semua saudaranya mati, banyak korban berjatuhan, dia tetap berusaha menjalankan misinya. Sebuah perjuangan yang sangat sulit menurutku.

Di bagian akhir lirik lagu ini terjadi perubahan yang sangat mendalam dari lagu ini, dimana sang tokoh diawal sangat angkuh berubah menjadi penuh sesal dan merasa bersalah walaupun jelas dia saat itu bisa diilang seorang pahlawan karena telah berjuang sehebat itu dan ia masih saja merasa bersalah akan semua hal yang telah terjadi, karena kehilangan sobatnya, karena hal yang kurang baik yang ia lakukan, dan karena nyawa yang telah ia hilangkan walau hal itu oleh sebagian orang dianggap sah saja tapi ia masih meresa bersalah. Tapi disini dia tidak penuh penyesalan saja tapi dibalik itu ada kehormatan baginya karena dia adalah pemuda yang telah bertarung penuh ketakutan demi nama Tuhan dan Negaranya, “Don’t forget that i was so young, fought so scared in the name of God an Country”.

Dari beberapa informasi yang saya dapat, katanya lagu ini mengisahkan tentang Perang Irak. Perang yang dianggap perang suci seperti perang salib bagi beberapa orang sehingga dicantumkan di lirik lagu ini “in the name of God an Country”. Tapi sayang, bagi orang yang membuat perang ini berjalan, ia menganggap perang ini hanya unuk memenuhi kebutuhan perutnya.

Sampai sekarang saya tidak habis pikir, kenapa grup band rock seperti Avenged Sevenfold yang kalian tahulah penampilannya kayak gimana tapi mereka bisa membuat karya yang seperti ini. Menurut saya ini cukup hebat dan saya malu akan diri sendiri mengapa saya yang mengaku bernasionalisme tinggi dan beragama tak pernah beusaha untuk memajukan agama dan nasionalisme di negeri sendiri dan di bidang sendiri. Sya suka lagu ini bukan karena saya mendukung AS di Perang Irak tapi karena saya suka terhadap lagu rock terutama Avenged Sevenfold, dan saya suka liriknya yang penuh perjuangan dan ketuahanan.

Mungkin hanya ini yang bisa saya tanggapi tentang lagu ini. Jika ada kesalahan mohon dimaafkan karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

 

Bagi yang mempunyai tanggapan berbeda silahkan komentari, buat yang menentang juga boleh, karena perbedaan membuat kita menjadi satu. George S Pattn pernah bilang, “Jika semua orang berpikiran sama maka untuk apa berpikir”, Dan Bukankah Allah telah ciptakan manusia dengan berbagai suku bangsnya dan beribu bahasa untuk saling mengenal dan menyayangi.

 

 

Amanat Panglima Besar Soedirman Kepada Angkatan Perang Disaat Upacara Kemerdekaan 1948

Isilah Jiwamu dengan Jiwa Proklamasi!

Tiga tahun yang lalu tanggal 17 Agustus 1945, diproklamirkan oleh Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta Negara Indonesia yang Merdeka. Mulai saat itu bangkitlah Sang Merah Putih laksana Kesatria Jaya yang turun dari pertapaannya, melambai-lambai tidak mau diinjak-injak atau dihinakan oleh lain bangsa.

Presiden kita pernah berkata : “Belahlah dadaku, maka kamu akan melihat isi Merah-Putih didalamnya!”

Sebagai prajurit Indonesia kita berkata : “Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasadku ini tetapi jiwaku yang dilindungi Benteng Sang Merah Putih akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang akan ku hadapi”.

Jikalau ini hari kita memperingati Hari Proklamasi bukanlah karena kita mau bersenang-senang dan beramai-ramai mendengarkan  kata-kata yang merdu dalam kalimat Proklamasi itu. Kalimat Proklamasi menggugat kita, menagih janji kita sekalian, menuntut pemenuhannya sumpah yang kita ikrarkan, hendak mempertahankan habis-habisan isi dan jiwa Proklamasi.

Percuma kita memperingati kebesaran Proklamasi itu kalau Undang-Undang Dasar Negara kita dicemarkan mentah-mentah oleh lain bangsa, kalau kesucian Sang Merah Putih dinodai oleh lain bangsa. Kita sebagai prajurit Indonesia pertama-tama yang harus serentak bangkit, berdiri, maju, dan menyediakan tercabutnya nyawa dari badan!

Tidak jauh dari tempat ini ada sebuah makam, Makam Bahagia. Disanalah tempat istiraharnya saudara-saudara kita, yang telah mendahului kita karena gugur dalam peerjuangan menentang bahaya yang hendak merobohkan Sang Merah Putih. Mereka menebus perjuangan dengan jiwa mereka, karena yakin lebih baik hancur lebur daripada Sang Merah Putih yang gugur.

Tiga tahun kita telah menjadi bangsa yang merdeka, jika kita hendak meneruskan sejarah kemerdekaan kita sekarang ini, maka kita sendiri harus mempunyai keinginan untuk merdeka.

Sebagai negara telah cukup memiliki panca indra. Negara ada, pemerintah ada, tentara ada, rakyat ada. Kalau kita sekarang tidak mempunyai keinginan untuk terus merdeka, samalah artinya dengan bayi yang tidak mau menjadi manusia sempurna. Bayi akan tetap menjadi bayi, digendong, ditimbang. Ia lebih dahulu lumpuh sebelum tumbuh.

Bahaya yang mengancam Negara, mengancam Sang Merah Putih masih tetap didepan kita. Isilah mulai sekarang jiwa kita dengan jiwa Priklamasi, dengan jiwa Sang Merah Putih, maka Insya’Allah akan lebur segala halangan yang berani merintang jalannya kita. Jalan menuju Indonesia Raya Merdeka dan Berdaulat.

 

Yogyakarta, 17 Agustus 1948

Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia

Letnan Jendral Soedirman

Sumber :

Adi, Ardian Kresna. 2011. Soedirman : Bapak Tentara Indonesia. Yogyakarata : Mata Padi Presindo

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.